Dear Dada,
I know u'll read my post. So..I'm going to write this to you.
.......... okay, i don't know where i should start. Let me describe it by number.
1. Why I always feel that this person didn't love me? wait..I mean..not really into me.
2. I do love this person
3. And I do hate him also. Why am I hating him? Dunno..
"Pertama!!! Karna secara tiba2 dan ga sengaja menemukan foto ex nya. Dan sebenarnya sih ga masalah..awalnya juga aku ga terlalu mikirin. cuman..kog lama - lama jadi kebawa2 perasaan dan rasa takut kejadian yg dulu.."
"Kedua!!! Hem..sebenarnya sih krn kecewa kmrn mlm dia ga ngabarin dia kemana, sama sapa aja, trus sampe jam berapa..Iya tau, kedgrannya manja banget kan??? But it's true..that's how I feel rite now. And this noon..when I saw him..He looks really nice (well, for me he always look nice). So I became more, more and more disappointed!!!! he never look that good when he hang out with me! I guess I mean nothing for him Dada..I wonder am I his girlfriend??? FUCK!!! I hate my own mind!!!
4. I know nothing about his personal life..I always find out by my self. He never tell me anything or even sharing..It makes me feel like I'm useless & I'm no one..
5. I hate my self..
6. Aku benci kejadian yang membuat aku ketakutan seperti ini!!!! Pergi sanaaaa...Hikss..Aku benci..Pergi sana..
7. Ohh..and he also put my name in his cell phone. Only-my-name! there's no nick name..
8. Okay..I begin to get nuts..Forgot what i say..
Thank you Dada..
Kencangnya angin mengibas rambutku yang baru ku potong sepundak. Bayangan Pitan masih terdiam membatu di depanku. Tak bergeming, tak bersuara. Sudah satu setengah jam lebih dia berdiri di depan makam kedua orang tuanya. Semua teman - teman dan saudara yang melayat telah pulang dengan meninggalkan tepukan lembut pada pundaknya. Kemudian tersenyum dan mengangguk kecil padaku, seakan berkata, "Tolong jaga dia."
Pandanganku, tak pernah lepas sedetik pun dari punggungnya. Jarak yang kurang dari dua meter itu terasa jauh tak terjangkau. Bagaimana aku harus menghiburnya? Aku tidak mengerti rasa sakitnya. hatiku memang pedih, tapi apa sudah sebanding dengan luka dihatinya? Apa yang harus aku katakan? Apa aku harus memeluknya sambil berkata semua akan baik - baik saja? Jangan itu terlalu konyol! Apanya yang baik - baik saja!
Akhirnya aku diam tanpa berkata dan berbuat apa - apa.
Dahan pohon - pohon berayun, ke depan dan belakang, ke kiri dan ke kanan. Daun - daun berterbangan, menyebar dan berhamburan di sekitarku. Warna senja yang pekat. Langit berwarna jingga hampir kemerahan. Sepertinya akan menenggelamkan dunia dengan kegelapan. Mungkin sama seperti hati Pitan. Gelap, kelam dan suram.
"Pitan..", ujarku kecil.
Pitan tetap membatu. Tak memalingkan mukannya ke arahku seperti biasanya. Tiba - tiba pasmina hitamnya terbang terbawa angin. Aku mengejarnya, tapi entah telah terbang kemana.
"Hilang..", aku berkata tanpa melihat ke arahnya.
Pitan masih tak bersuara. Tapi dia melihat ke arahku, aku merasakannya. Namun saat ku berbalik, dia sudah memalingkan muka kembali. Terlihat dari samping, mata yang memandang lekat dua nisan berwarna krem berhiaskan banyak bunga krisan dan mawar putih kesukaan ibunya. Bekas air mata yang sudah mulai mengering, mengalir kembali tanpa isakan. Aku mengepal tangan, kesal - menyesal tak mampu berbuat apa - apa.
"Sudah gelap.", kataku lagi.
Matanya berganti memandang kedua bingkai foto yang terletak di atas masing - masing nisan. Perlahan Pitan membungkuk, mengambil kedua bingkai itu kemudian mengelusnya dengan lembut. Tetasan air mata terjatuh di atasnya. Dengan erat - kuat dia memeluknya seakan bingkai itu akan terbang entah kemana. Dengan suara paraunya dia menjawab, "........umm."
Rasanya sangat lega mendengar suaranya. Sampai ingin menangis rasanya. Teman terbaikku, bahkan lebih dekat dari seluruh saudaraku. Kalau bisa pedihmu terbagi, aku mau menanggungnya.
"Kita pulang." Sambil berjalan perlahan, berharap dia mengikuti dan berpaling dari lembah kesedihannya. Aku tetap berjalan perlahan, menunggunya tanpa menengok ke belakang sedikit pun, tetap berharap dia mengikutiku.
Tanpa sadar aku sudah berjalan cukup jauh dari tempat Pitan. tiba - tiba terasa tangan yang dingin dan lembab menggenggam tanganku. Genggamannya erat, tapi bisu. Aku membalasnya, sambil terus memandag kedepan, aku menggenggamnya lebih erat dan mengusap permukaan tangannya dengan ibu jariku, seakan menguatkannya dan kataku dalam hati, "Aku disini temanku. Aku masih bersamamu."
Kami berjalan, menyelusuri pemakaman yang semakin sunyi. Melangkah berlawanan dengan matahari yang terbenam. Menarik sahabatku dari kepedihan. Menopang berat beban yang sama agar punyanya menjadi ringan. Hei senja indah yang kan kelam, Kami kan pulang, tak kalah dengan tangisan, hanya menatap ke masa depan.
Kami pulang.
But, I’m kind a like it… (“(^v^)”)
Monday, September 10, 2007 – 10 : 55 pm
“Lelah sendiri..”
Suara layar tancep sebelah rumah membuatku sedikit berpikir bahwa malam ini berisik. Demikian juga dengan suara TV ga penting di depanku. Tapi yang paling membuatku malas berpikir adalah kerjaan kantor yang menumpuk. Dua konsep yang harus aku buat membuat aku bingung antar memilih tidur atau enggak. Dan guling kesayanganku ga cukup membantu untuk membuatku terlelap.
(Rrrrrr..Rrrrrrrr..Rrrrrr...—My cell phone ringing)
“Jim speaking” (jawabku males2an..)
--- (Ahoy Jim’Ney! Lagi aps?)
“Ampun deh Pit. Loe kog baru nelpon sih? Kemana aja? Ditelponin mailbox terus!”
--- (Set dah Jim, pelan – pelan kali. Hape gw abis batre. Jadinya gw nyari – nyari wartel dulu. Jangan ngambek dong cinta..)
“Lo kemana aja?”
--- (Kan gw da bilang. gw ke airport, bonyok mo ke Lampung. Sekarang gw di sabang, lg makan di mang Besmat.)
“Ihh jijik! Lo kog makan disitu lagi sih! Ngebayanginnya ‘ja da males!”
--- (Bo, disini ‘da mantan lo neh.)
“….”
--- (Dia kayanya sama ceweknya gitu. Mesra aje..geulies euy cewe na. Tapi kalo dibandingin…***Let’s cut the story. I’m kind of lazy to write ‘bout this
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Anyway, gw mo ngasih info tentang bang Besmat.
Kenapa kita nyebutnya bang Besmat? Coz..waktu itu, gw ma Pitan lg milih – milih makanan di daerah Sabang (tepatnya jam 1:48 am) secara ngasal kita milih makanan, berhubung da laper berat. Trus kita makan deh di warung basonya bang Besmat. Rasanya sih lumayan (SECARA LAPER GITU!!! TIKUS GORENG JUGA NIKMAT KALEEE..) basonya juga lumayan besar..
Tapi bukan itu yang besar. Melainkan “itu” nya
***Hem..Chotto mate kudasai (arti:tunggu - tunggu). Do u understand wat I mean? Okay, let me make it clear..
(CERITANYA GW MA PITAN BARU DATENG DI SABANG – RABU PAGI, ABIS NYETAK Q CARD MC DI BENHIL, 1:48AM)
-- Bakso dipesan
“Bang, baso dua mangkok, komplit ya. Satu pake cabe satu enggak. Pangsitnya yang banyak ya!”
-- Bakso diterima, bakso dimakan
“Lumayan ya Pit.” (suapan terakhir)
“Iyah..” (matanya tiba – tiba melotot) O my God!!!! (Mangkoknya jatoh, matanya liat ke arah belakang gw) JANGAN NENGOK KE BELAKANG!” (sambil megang paha gw)
Dan spontan dong gw langsung nengok belakang?! Dan gw langsung balik muka lagi ke depan.
Ternyata…tuh abank lagi pipis di pojokan deket pintu popeye dan berhubung agak terang..jadi KELIATAN BANGET!!!
“Pit..”
“Iyah..”
“Gw baru ngeliat terong gede banget sumpah.”
“Gw rasa, dia suntik deh..”
(silence)
“Pit..”
“Iyah..”
“Pulang yuk..”
“Ayo..”
Dan di mobil, barulah julukan itu tercipta. Kita heboh cerita kemana – mana. Eh, anak – anak malah pada dateng ke sana karna pengen liat (mostly women – Ya elah..abank – abank kale guys! Come ooooon…) Tapi belum ada yang ngeliat lagi (which mean, they tell us a liar. but WE’RE NOT! WE TRULY DEEPLY HONESTLY NOT LYING! So some of them stop comin..well who cares)
Well, that’s a little story ‘bout bang Besar a.k.a Besmat, Amat
Heeehh..gw jadi lelah sendiri..
Ngantuk ah. Mo tidur..
Anw, Pitan masih bercerita ditelpon.
--- (Iya..jadinya gitu Jim. Gimana menurut lo?)
“Emm..menurut gw juga gitu sih” (actually, I don’t even know wat she’s talking bout)
--- (ha? Gitu sih gimana? Lo nyimak omongan gw kaga sih..)
“daaahh..” (phone hang up)
Akhirnya, without doin any of those concept assignment thing. I’m going to bed..
Dan seperti apakah kekacauan di pagi hari besok? We’ll see..
(Music by Lee Hom Wong, Change Me – Recommended to hear)
(Tapi akhirnya ga bisa tidur juga..ck!)
Sambungan sedikit
(Rrrr..Rrrr.. ---SMS masuk)